9 Prinsip Pacaran Kristiani
oleh Theodorus Hedwin
Kadrianto pada 27 Agustus 2011
Latar belakang:
Data BKKBN (Badan Koordinasi
Keluarga Berencana Nasional) tahun 2010 menunjukkan, 51% remaja di Jabodetabek
sudah melakukan seks pra nikah alias tidak perawan! Di Surabaya 54%, Bandung
47%, dan Medan 52%!! Estimasi jumlah aborsi di Indonesia adalah 2,4 juta kasus
per tahun, 800.000 di antaranya adalah pada usia remaja.
Sungguh suatu data yang mengerikan.
Iblis berhasil dengan segala strateginya melumpuhkan anak-anak muda, termasuk
anak-anak Tuhan. Semua diawali dari hal yang sangat sederhana, dan tidak ada
satu manusia pun yang tidak rentan. Orang sekaliber Daud saja bisa jatuh dalam
dosa perzinahan, apalagi kita. Sehingga kita harus sungguh-sungguh menjaga
diri, menjaga kekudusan hidup (bukan sekedar tidak berhubungan seks sebelum
menikah tetapi sudah yang lainnya), sehingga masa muda kita maksimal dipakai
untuk kemuliaan Tuhan.
Prinsip-prinsip:
Pacaran adalah masa
persiapan menuju pernikahan.
Berapa banyak pasangan menikah yang
berpacaran sejak usia SMA? Usia muda yang terbaik digunakan untuk maksimal
melayani Tuhan. Ketika kita tidak memiliki pasangan, maka konsentrasi kita
untuk melayani Tuhan lebih besar (1 Kor 7:32-35). Oleh karena itu, jangan
memulai suatu hubungan pacaran, bila kita tahu pada akhirnya akan putus karena
kita tidak sedang berencana menikah dengan orang tersebut. Hal itu akan
membuang waktu, tenaga, biaya, perhatian, dll, sehingga kita sangat tidak
maksimal dalam melayani Tuhan. Jalinlah hubungan persahabatan yang baik. Rasa
suka memang pasti hinggap di hati kita di masa-masa usia belasan. Mintalah
Tuhan untuk mengontrol perasaan hati, dan menunggu waktu yang tepat untuk
memulai hubungan pacaran yang serius, menuju pernikahan.
TUHAN sudah mempersiapkan
seorang yang terbaik.
Jangan kuatir tidak akan dapat
pasangan hidup, karena Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik. Tuhan tahu
kebutuhan kita anak-anakNya. Tuhan tahu kebutuhan kita akan makanan, pakaian,
termasuk pasangan hidup (Mat 6:31-33). Dalam buku Waiting and Dating,
kita akan menemukannya dalam perjalanan “mencari dahulu Kerajaan Allah”. Cari
dahulu panggilan hidup, dan fokuslah melayani Allah. Tiba-tiba kita akan
bertemu seseorang yang luar biasa, yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan!
ROH-JIWA-TUBUH.
Inilah aturan Alkitab dalam kita
memilih pacar (calon pasangan hidup). Jangan karena si dia sangat cantik /
ganteng, kita tidak lagi mempedulikan kondisi rohani dan karakternya. Hukum
Tuhan adalah sebaliknya. Lihatlah terlebih dahulu kondisi rohaninya, dan jatuh
cintalah padanya terutama karena hal ini! (Ams 31:30) Lalu lihatlah
karakternya, bagaimana kedewasaannya dalam bertingkahlaku, berbicara, bekerja,
dll. Baru kemudian ketertarikan secara fisik. Pacaran (apalagi menikah) dengan
orang yang tidak seiman tidak dibenarkan menurut Alkitab (2 Kor 6:14). Tidak
seiman bukan hanya soal beda agama. Orang Kristen yang hidup jauh dari Tuhan
juga termasuk tidak seiman. Pasangan yang lahir baru adalah syarat mutlak, bila
ingin menikmati rumah tangga yang berbahagia.
Visi pacaran: keluarga
Kristen misioner.
Akwila dan Priskila adalah contoh
pasangan ideal dalam Alkitab yang patut kita teladani (Kis 18:2-3, 18, 26-28,
Rom 16:3-5). Mereka menampung Paulus, seorang misionaris yang “sangat beresiko”
di rumah mereka, dan mereka mendukung pelayanan Paulus di Korintus. Mereka
berdua menemani Paulus sampai ke Efesus, dan tinggal disana. Lalu mereka berdua
melihat kekurangan dalam diri Apolos, lalu dengan teliti mengajarkan Firman
Tuhan dan memuridkan Apolos, sampai Apolos menjadi sangat berguna bagi jemaat.
Bahkan menurut surat Paulus di Roma, keduanya mempertaruhkan nyawa bagi
pelayanan Paulus, sampai seluruh jemaat bukan Yahudi menyampaikan terima kasih
pada pasangan ini. Rumah mereka pun dipakai untuk kebaktian jemaat.
Inilah pentingnya memilih pasangan
hidup yang sevisi di dalam Tuhan, yang sama-sama mengasihi Tuhan lebih dari
segalanya. Suami istri yang demikian akan sangat luar biasa dipakai oleh Tuhan.
Contoh: dr. Paul Brand dan dr. Margaret Brand, pasangan dokter dari Inggris
yang mengabdikan diri untuk melayani Tuhan, dengan menjadi dokter untuk
penderita kusta di India.
Biasakan mengisi pacaran dengan
hal-hal rohani, seperti berdoa sebelum dan seusai pertemuan, membahas Firman,
membicarakan pelayanan, pelayanan bersama, dll. Utamakan saling mengenal satu
sama lain dalam berpacaran. Pernikahan harus menjadi kesaksian, yang membuat
orang tidak trauma dengan pernikahan.
Pacaran bukan untuk mengisi
hidup agar lebih utuh.
Keutuhan hidup tidak akan pernah
bisa dicapai dari pasangan hidup (Yoh 4:13-18). Hanya Tuhanlah yang dapat
membuat hidup kita terasa lengkap dan utuh. Bagaikan 2 gelas setengah penuh
yang mencoba saling mengisi, ketika 1 penuh, maka yang lain kosong. Ketika
seseorang berpacaran hanya untuk mengisi kekosongan, maka ia akan terus
menuntut perhatian demi perhatian dari pasangannya. Kisah pacaran akan diisi
dengan tuntutan-tuntutan yang membuat pasangan lainnya gerah, lalu mencari
pasangan yang lain, atau mencoba mengatasi kekesalannya dengan hal-hal lain.
Cinta tidak pernah berfokus
pada diri sendiri.
Definisi kasih digambarkan Allah
yang rela mengorbankan diriNya, segalanya, demi keselamatan dan kebahagiaan
kita, manusia yang berdosa (Yoh 3:16). Salah satu ciri kasih dalam 1 Kor
13:4-7, adalah tidak mencari keuntungan diri sendiri. Memanfaatkan pacar untuk
ketenaran diri, kepuasan diri, kebutuhan diri (akan uang si pacar, kecerdasan
si pacar, dll), bukanlah cinta. Cinta berarti rela mengorbankan kepentingan
diri demi sang pasangan.
Jaga kekudusan dalam
berpacaran.
Dalam bukunya I Kissed Dating
Goodbye, Joshua Harris menegaskan bahwa ciuman pertama harus dilakukan di
altar gereja, saat pemberkatan pernikahan. Hindari ciuman dalam berpacaran.
Hindari banyak sentuhan fisik dalam berpacaran. Bergandengan tangan sudah lebih
dari cukup. Hindari berduaan di tempat sepi, dan berpakaianlah lebih tertutup
untuk wanita (Yak 1:14-15, 1 Tim 2:9). Wanita sangat memegang peranan penting
dalam hal ini. Ilustrasinya bagaikan kepalan tangan. Jika jempol sudah terbuka,
maka jari-jari lainnya akan mudah dibuka. Jika ciuman sudah dilakukan, maka
hal-hal yang lebih jauh dari itu akan mudah dilakukan, dan tanpa sadar seks pra
nikah pun terjadi. Ingatlah untuk selalu berdoa, menyepakati hal ini dengan
pasangan, dan meminta Roh Kudus yang menguasai diri kita sepenuhnya sehingga kita
mampu mengendalikan diri (Gal 5:22). Kegagalan masa lalu sudah berakhir dan
tidak perlu diingat, ketika kita mengalami lahir baru, dan Roh Kudus hidup di
dalam kita. Jalanilah hidup baru, termasuk hidup pacaran yang kudus di hadapan
Tuhan.
Siap pacaran, harus siap
kehilangan.
Jatuh cinta memang berjuta rasanya.
Tetapi berhati-hatilah bila kita mulai menganggap pacar kita sebagai
segala-galanya. Ketika kita memiliki sikap siap kehilangan dia dalam hati,
walaupun sulit, berarti kita masih berpusat pada Kristus dalam hubungan kita.
Bila kita tidak siap kehilangan dia, tidak mau lepas darinya, tidak bisa hidup
tanpa dia, maka kita sesungguhnya telah berpusat pada pasangan kita (Mat
10:37-39, 22:37-38).
Seks pra nikah adalah dosa.
Seks adalah lambang bersatunya dua
manusia menjadi satu daging, dan itu hanya terjadi setelah pernikahan (Mat
19:5-6, 1 Kor 6:16, Ibr 13:4). Seks dalam pernikahan adalah hal yang begitu
indah yang dikaruniakan Allah untuk dinikmati manusia dalam keluarga.
Sebaliknya, seks pra nikah akan membawa kedukaan dan berbagai masalah yang
berujung pada kehancuran rumah tangga.
Masalah hawa nafsu bukan hanya seks
pra nikah. Alkitab menyebutkan perzinahan sudah terjadi ketika kita memandang
lawan jenis dengan mata penuh nafsu (Mat 5:28). Membicarakan hal-hal seksual
dengan penuh nafsu juga kekejian di mata Allah (Ef 5:3). Termasuk juga dalam
kategori dikuasai hawa nafsu adalah: masturbasi, menonton film yang ada adegan
porno dengan sengaja untuk melihatnya, menelusuri pornografi di internet, menikmati
bacaan seksualitas dalam novel remaja, imajinasi seksual, menikmati bacaan
artikel seks di majalah dewasa, dan tindakan-tindakan lainnya (Gal 5:19-21).
Godaan hawa nafsu datang setiap
saat. Oleh karena itu, ketika hal-hal seperti ini datang dalam pikiran kita,
segeralah “lari” kepada Tuhan, seperti yang dilakukan Yusuf. Berlama-lama
memandang seperti Daud terhadap Betsyeba, berakibat perzinahan terjadi.
Demikianlah kesembilan prinsip,
selanjutnya pilihan ada di tangan kita.
“Hanya ada dua pilihan: Anda
mau memilih mengikuti standar Tuhan atau Anda
mau mengikuti standar dunia.” – Myles
Munroe, Waiting and Dating
God bless you all!!