PEMBELAJARAN
DENGAN PENDEKATAN PMRI PADA MATERI PECAHAN
1. Pendahuluan
1.1 Sejarah Pembelajaran Matematika Realistik
PMR ( Pendidikan Matematika Realistik) tidak dapat dipisahkan dari Institut
Freudenthal. Institut ini didirikan pada tahun 1971, dibawah Utrecht
University, Belanda. Nama institute diambil dari nama pendirinya, yaitu
Profesor Hans Freudenthal (1905 – 1990), seorang penulis, pendidik, dan
matematikawan berkebangsaan Jerman/Belanda.
Sejak tahun 1971, Institut Freudenthal mengembangkan suatu pendekatan
teoritis terhadap pembelajaran matematika yang deikenal dengan RME (Realistics
Mathematics Education). RME menggabungkan pandangan pandangan tentang apa itu
matematika, bagaimana siswa belajar matematika dan bagaimana matematika harus
diajarkan.
Menurut filsafat PMR siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali
(to reinvent) matematika dibawah bimbingan orang dewasa (Gravemeijer,1994) dan
penemuan kembali ide dan konsep matematika tersebut harus dimulai dari
penjelajahan berbagai persoalan dan situasi 'dunia riil' (de Lange,1995)
Pada saat ini, PMR mendapat
perhatian dari berbagai pihak, seperti guru, siswa, orangtua, dosen LPTK (teacher
educators), dan pemerintah. Beberapa sekolah dasar di Yogyakarta, Bandung
dan Surabaya telah melakukan ujicoba dan implementasi PMR dalam skala terbatas.
Sebelum PMR diimplementasikan secara luas di Indonesia, perlu pemahaman yang
memadai tentang teori ‘baru’ tersebut. Seringkali
kegagalan dalam inovasi pendidikan bukan disebabkan karena inovasi itu jelek,
tapi karena kita tidak memahaminya secara benar. Makalah ini akan menguraikan
secara garis besar tentang sejarah PMR, mengapa kita perlu mengembangkan PMR di
Indonesia, bukti empiris prospek penerapan PMR di Indonesia, dan ditutup dengan
harapan terhadap implementasi PMR di tanah air.
PMRI telah diuji coba terbatas di kelas I, II dan III. Kemudian mulai tahun
pelajaran 2002/2003 baru dilakukan uji coba penuh di beberapa Sekolah Dasar
(SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Indonesia dengan hasil yang sangat
menggembirakan. Saat ini pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik
untuk kelas lainnya masih diujicobakan.
1.2.
Karakteristik PMR
Menurut Jan de Lange (1987); Treffers (1991); dan Gravemeijer (1994) dalam
Zulkardi (2005:9) PMRI mempunyai lima karakteristik yaitu sebagai berikut:
1. Menggunakan
masalah kontekstual (masalah kontekstual sebagai aplikasi dan sebagai titik
tolak dari mana matematika yang diinginkan dapat muncul).
2. Menggunakan
model yang menekankan penyelesaian secara informal sebelum menggunakan cara
formal atau rumus. (Perhatian diarahkan pada pengembangan model, skema dan
simbolisasi daripada hanya mentransfer rumus atau matematika secara langsung).
3. Menghargai
ragam jawaban dan kontribusi siswa (Kontribusi yang besar pada proses belajar
mengajar diharapkan dari kontribusi siswa sendiri yang mengarahkan mereka dari
metode informal kearah yang lebih formal).
4.
Interaktivitas (negoisasi secara eksplisit, intervensi, kooperatif dan evaluasi
sesama siswa dan guru adalah faktor penting dalam proses belajar secara
konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jantung untuk mencapai
yang formal).
5. Terintegrasi
dengan topik pembelajaran lainnya (Pendekatan holistic, menunjukan bahwa
unit-unit belajar tidak akan dapat dicapai secara terpisah tetapi keterkaitan
dan keterintegrasian harus dieksploitasi dalam pemecahan masalah).
1.3. Prinsip Utama PMR
Menurut Gravemeijer (1994), terdapat tiga prinsip utama dalam pendekatan
matematika realistik yaitu:
(a) Guided
Reinvention and Progressive Mathematization (Penemuan terbimbing dan
Bermatematika secara Progressif)
Prinsip
Penemuan terbimbing dimaksudkan, siswa diberi kesempatan untuk menemukan
sendiri konsep matematika dengan menyelesaikan berbagai soal kontekstual yang
sudah dikenal siswa. Bermatematika secara progressif
dimaksudkan bermatematika secara horizontal dan vertikal. Matematika secara
horizontal, siswa diharapkan mampu mengidentifikasi soal kontekstual sehingga
dapat ditransfer ke dalam soal bentuk matematika berupa model, diagram, tabel
(model informal) untuk lebih dipahami. Sedangkan matematika vertikal, siswa
menyelesaikan bentuk matematika formal atau non formal dari soal kontekstual
dengan menggunakan konsep, operasi dan prosedur matematika yang berlaku.
(b) Didactical Phenomenology (Fenomena Pembelajaran)
Prinsip
fenomena pembelajaran menekankan pada pentingnya soal kontekstual untuk
memperkenalkan topik-topik matematika kepada siswa dengan mempertimbangkan
kecocokan aplikasi konteks dalam pembelajaran dan kecocokan dampak dalam proses
penemuan kembali bentuk dan model matematika dari soal kontekstual tersebut.
(c) Self-developed Models (Pengembangan Model
Mandiri).
Prinsip pengembangan model mandiri berfungsi untuk menjembatani antara
pengetahuan matematika non formal dengan formal dari siswa. Model matematika
dimunculkan dan dikembangkan secara mandiri berdasarkan model-model matematika
yang telah diketahui siswa. Diawali dengan soal kontekstual dari situasi nyata
yang sudah dikenal siswa kemudian ditemukan model dari (model of) dari situasi
tersebut (bentuk informal) dan kemudian diikuti dengan penemuan model untuk
(model for) dari bentuk tersebut (bentuk formal), hingga mendapatkan
penyelesaian masalah dalam bentuk pengetahuan matematika yang standard.
II. Masalah
2.1 Rumusan
Masalah
Adapun masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana aktivitas belajar
siswa kelas III SD Negeri 148 Palembang dalam pembelajaran matematika pokok
bahasan penjumlahan bilangan pecahan dengan pendekatan Pendidikan Matematika
Realistik Indonesia (PMRI) berdasarkan karakteristik-karakteristik PMRI.
2.2 Batasan
Masalah
Agar permasalahan dalam penelitian ini tidak meluas maka masalah dibatasi
pada aktivitas belajar siswa saat proses belajar mengajar pada hari Sabtu 18
April 2009.
III. Tujuan
Observasi
Observasi dan praktek ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana aktivitas
belajar siswa kelas III SD Negeri 148 Palembang dalam pembelajaran matematika
pada materi penjumlahan bilangan pecahan dengan pendekatan Pendidikan
Matematika Realistik Indonesia (PMRI).
IV. Manfaat
Observasi
Hasil dari observasi dan praktek ini diharapkan dapat memberikan manfaat
antara lain :
(1) Bagi sekolah tempat praktek, sebagai bahan pertimbangan dalam
pengembangan dan penyempurnaan program pengajaran matematika di sekolah.
(2) Bagi guru mata pelajaran, sebagai informasi tentang suatu pendekatan
pembelajaran dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran.
(3) Bagi mahasiswa , sebagai pengalaman langsung dalam pelaksanaan
pembelajaran dengan pendekatan realistik.
(4) Bagi siswa, sebagai motivasi untuk meningkatkan kemampuannya khususnya
dalam pelajaran matematika.
(5) Sebagai
sumbangan mahasiswa untuk proses sosialisasi PMRI.
V. Praktek
Pembelajaran PMR di SD Negeri 148 Palembang
Untuk lebih memahami materi kuliah Pendidikan Matematika Realistik yang di
asuh oleh Bapak Prof. Dr. Zulkardi, M.I.Komp, M.Sc. kami mahasiswa program
studi matematika angkatan 2008 diberi tugas tambahan yaitu, observasi di
sekolah-sekolah yang telah ditunjuk oleh dosen pengampuh mata kuliah Realistik
dan melakukan praktek pengajaran disekolah yang ada disekitar tempat tinggal
kami masing-masing. Materi yang diajarkan diserahkan kepada mahasiswa sendiri.
Berdasarkan pengamatan saya selama saya mengajar di sekolah tempat saya
bertugas, masih banyak siswa yang kurang memahami operasi penjumlahan pada
bilangan pecahan. Oleh sebab itu dikesempatan yang baik ini saya mencoba
mempraktekkan bagaimana mengajarkan operasi penjumlahan pada bilangan pecahan.
Karena operasi penjumlahan pecahan ini mulai dipelajari di Sekolah Dasar maka
saya akan mempraktekkannya di Sekolah Dasar yaitu dimulai dari kelas III.
Setelah saya mengetahui bahwa operasi bilangan pecahan ini mulai dipelajari
di kelas III, saya mencoba menghubungi Sekolah Dasar yang dekat dengan lokasi
tempat tinggal saya yaitu SD Negeri 148 Palembang yang berlokasi di Kompleks
Perumdam Lebong Siarang Palembang. Saya segera menghubungi guru yang mengajar
di kelas III. Nama guru yang itu yaitu ibu Iriani. Ibu ini mengizinkan saya
untuk menggunakan kelasnya untuk dijadikan tempat praktek dan beliau
mengizinkan saya untuk praktek pada hari Sabtu, 18 April 2009 Pukul 10.00 WIB.
Setelah saya mendapat lampu hijau dari guru kelas III, sayapun menghubungi
Kepala Sekolah SD Negeri 148 ini yaitu ibu Rafida Salim, S.Pd. untuk minta
izin. Setelah mendapat izin dari Kepala Sekolah saya mulai menyusun Rencana
Pembelajaran dan lembar kegiatan yang harus dikerjakan oleh siswa yang akan
saya gunakan pada tanggal 18 April 2009.
5.1. Rencana Pembelajaran dan Lembar kerja
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Nama Sekolah : SD. Negeri 148 Palembang
Mata Pelajaran : Matematika
Kompetensi Dasar: Memahami pecahan sederhana dan penggunaannya dalam pemecahan
masalah
Indikator : Menentukan penjumlahan bilangan pecahan
Pendahuluan:
Apersepsi: Guru mengajukan pertanyaan tentang pecahan. Jika siswa
lupa maka Guru menggingatkan kembali konsep pecahan
Kegiatan Inti
- Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
- Guru membagikan lembar kerja yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok
- Guru membagikan kertas berwarna yang berbentuk persegi panjang, lingkaran , gunting dan lem ke masing-masing kelompok.
- Siswa diminta membaca petunjuk yang ada dilembar kerja dan diminta bertanya jika ada yang belum mereka mengerti
- Siswa mengerjakan lembar kerja menurut pendapat mereka
- Siswa diminta mempresentasikan jawabannya di depan kelas
Penutup
Guru memberikan tanggapan tentang jawaban masing-masing kelompok dan
bersama-sama menyimpulkan bagaimana cara mengerjakan soal penjumlahan
Lembar Kegiatan Siswa
Petunjuk: Untuk memudahkan kalian menjawab soal gunakan kertas warna yang
bentuknya sesuai dengan bentuk benda yang diminta.
- Yudha mempunyai satu lembar karton yang berbentuk persegi panjang. Karton itu akan dibagikan secara adil kepada Farhan dan Jamal.
- Apakah yang harus dilakukan oleh Yudha,
- Berapa besarkah bagian yang diterima oleh masing-masing teman.
- Jika bagian masing-masing temannya kita satukan lagi apakah yang terjadi? Berapa besar kertas itu sekarang ?
- Nanda mempunyai pita rambut sepanjang satu meter. Pita ini akan dibagikan kepada Ade, Dyah dan Mutiara
- Berapa besar bagian pita yang diterima oleh Ade, Dyah dan Mutiara
- Berapakah nilai jika bagian Ade ditambahkan dengan bagian Dyah
- Ibu
membeli satu buah pizza. Pizza itu
kemudian dibagi menjadi empat bagian yang sama besar. Kemudian Pizza
dibagikan kepada anak-anaknya. Yudha mendapat dua bagian, Syauqi mendapat
satu bagian dan Nanda mendapatkan satu bagian
a. Tuliskan bagian yang diterima oleh Yudha
b. Tuliskan bagian yang diterima oleh Syauqi
c. Tuliskan bagian yang diterima oleh Nanda
d. Berapakah nilai jika bagian yudha ditambahkan dengan bagian Syauqi
e Berapakah nilai jika bagian Nanda ditambahkan dengan bagian Syauqi
5.2.
Pelaksanaan Pembelajaran
- Kegiatan Awal
- Sebelum pembelajaran dimulai saya memperkenalkan diri saya kepada siswa
- Saya menuliskan materi yang akan dipelajari
- Menyebutkan indikator yang harus dikuasai siswa
- Guru mengajukan pertanyaan tentang pecahan. Karena siswa masih banyak yang belum tahu maka guru memberikan contoh. Hari itu saya membawa beberapa potong roti ke SD Negeri 148 Palembang. Karena roti yang saya bawa tidak banyak maka saya minta siswa untuk membagi satu potong roti untuk beberapa orang secara adil. Setelah itu siswa diminta menggambarnya.
- Kegiatan Inti
· Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok
· Guru membagikan lembar kerja yang harus dikerjakan oleh masing-masing
kelompok
· Guru membagikan kertas berwarna, gunting dan lem ke masing-masing
kelompok
· Siswa diminta membaca petunjuk yang ada dilembar kerja dan diminta
bertanya jika ada yang belum mereka mengerti
· Siswa mengerjakan lembar kerja menurut pendapat mereka
· Siswa diminta mempresentasikan jawabannya di depan kelas
3. Penutup
· Guru memberikan tanggapan tentang pendapat siswa dan bersama-sama menyimpulkan
cara menyelesaikan operasi penjumlahan bilangan pecahan.
· Guru memberikan beberapa soal untuk dikerjakan dirumah
VI. Kaitannya
dengan karakteristik PMR
Proses
pembelajaran di atas hampir memenuhi lima karakteristik PMRI
1. Menggunakan masalah kontekstual
Dalam hal ini siswa diminta membagi roti karena jumlah roti tidak cukup
maka
sebagai ganti roti disiapkan kertas warna-warni yang berbentuk persegi.
2. Menggunakan model yang menekankan penyelesaian secara informal sebelum
menggunakan cara formal atau rumus.
Siswa diminta menggabungkan kertas yang sudah dipotong sesuai petunjuk dan
menempelnya untuk mengganti kata jumlah
3. Menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa
Guru menghargai macam-macam jawaban yang diberikan siswa
4.
Interaktivitas (negoisasi secara eksplisit, intervensi, kooperatif dan evaluasi
sesama siswa dan guru adalah faktor penting dalam proses belajar secara
konstruktif dimana strategi informal siswa digunakan sebagai jantung untuk
mencapai yang formal).
Hal ini dapat dilihat dari interaksi siswa dengan siswa dan siswa dengan
guru dengan cara bertanya .
5. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya (Pendekatan holistic,
menunjukan bahwa unit-unit belajar tidak akan dapat dicapai secara terpisah
tetapi keterkaitan dan keterintegrasian harus dieksploitasi dalam pemecahan
masalah).
Dalam hal ini berkaitan dengan konsep pembagian, penjumlahan dan
pengurangan
VII. Kesimpulan
Dari penelitian
yang dilakukan di kelas III SD Negeri 148 Palembang maka peneliti dapat
menyimpulkan:
1. Siswa lebih mudah memahami dan mengerti materi yang akan dipelajari
dengan adanya proses mengalami sendiri kegiatan pembelajaran tersebut.
2. Dengan adanya model (benda) yang sudah dikenal siswa akan lebih membantu
siswa dalam memahami konsep.
3. Dengan belajar secara berkelompok, dapat membatu menumbuhkan rasa gotong
royong dalam menyelesaikan suatu masalah dan dapat menghargai pendapat teman.
4. Siswa merasakan bahwa pelajaran matematika itu sangat menyenangkan.
http://zilawarih.blogspot.com/2009/06/pembelajaran-dengan-pendekatan-pmri.html
Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar.
Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.
Anonim. 1994. Petunjuk Pelaksanaan PBM. Depdikbud. Jakarta.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi III. Rineka Cipta. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar